RSUD Konkep Genjot Layanan Kesehatan

324
Direktur Utama (Dirut) RSUD Konkep, dr Rudi Utomo

LANGARA, KARYASULTRA.ID-Bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) masih memerlukan perhatian khusus. Sejak peletakkan batu pertama pertanda di mulainya pembangunan pada tahun 2015 telah banyak mendapat kendala. Mulai penolakan warga terkait ganti rugi lahan. Kemudian lokasi bangunan yang memberi dampak longsor hingga keterbatasan anggaran. Namun satu persatu persoalan di jawab pemerintah setempat.

Melalui Direktur Utama (Dirut) RSUD, dr Rudi Utomo yang diberi amanah oleh bupati Konkep, pihaknya mulai berbenah. Gedung yang di bangun tahun 2015 resmi ditempati akhir tahun 2018. Pelan tapi pasti, pihak manajemen rumah sakit terus berupaya memberi pelayanan terbaiknya.

Dalam perbincangan direktur rumah sakit bersama jurnalis media ini. Rudi mengungkapkan berbagai hal yang dilaluinya. Dokter alumni Universitas Airlangga ini bercerita bahwa membangun manajemen pelayanan rumah sakit dari titik nol tidaklah enteng. Berbagai Kendala pasti ditemui. Mulai dari fasilitas yang serba terbatas, sumber daya manusia yang masih minim, kemudian hal-hal teknis lainnya. Sementara masyarakat harus mendapat pelayanan memadai. “Kami terus berusaha memperbaiki pelayanan secara perlahan-lahan,” kata jebolan dokter tahun 2000.

Foto bersama Kru RSUD Konkep

Saat ini gedung utama yang bisa digunakan. Sementara gedung lainnya belum bisa digunakan karena terkendala banyak faktor. Jadi di gedung utama inilah seluruh pelayanan di satukan. UGD, Poli, rawat inap, dan lain-lainnya tersentral di gedung utama. “Insya Allah beberapa gedung yang sudah di bangun secara terpisah, baik itu UGD, Laboratorium, gedung operasi, gedung instalasi farmasi dan fasilitas bangunan lainnya akan termanfaatkan akhir tahun ini.

Terkait pemenuhan tenaga kesehatan. Pihaknya hanya terkendala di dokter spesialis. Semestinya ke depan harus ada enam dokter spesialis, baik itu Spesialis anak, bedah, penyakit dalam, dan dua dokter penunjang spesialis anestesi dan radiologi. Sementara saat ini yang ada hanya dokter spesialis kandungan. Sebelumnya ada dokter ahli penyakit dalam. Tapi massa kontraknya sudah berakhir. “Kita menunggu jika ada dokter spesialis yang mau mengabdikan ilmunya di rumah sakit kita ini. Disampingnya itu juga kami berupaya melobi pihak Kemenkes dan juga menjalin kerja sama dengan universitas kedokteran kiranya bisa mengirimkan dokter spesialisnya,” jelasnya.

Untuk dokter umum, dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya seperti Perawat, Bidan, Farmasi, Analis sudah terpenuhi.

“Saat ini status rumah sakit sesuai izin operasionalnya masih status tipe D. Untuk meningkatkan status banyak hal yang harus disiapkan khususnya ketersedian dokter spesialis. Kemudian mengikuti tahapan akreditasi,” tambahnya.

Perlu diketahui, lanjut kata dokter Rudi, untuk insentif dokter spesialis Rp 30 juta plus rumah dinas dan kendaraan dinas, Untuk dokter umum Rp 10 juta. Tenaga kesehatan kontrak lainnya mendapat gaji Rp1,5 juta. Perlu diketahui juga bahwa luas lahan rumah sakit sekitar 8 hektar.

 

Laporan: Agam
Editor: Kalpin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here