Puskesmas Langara Temukan Kasus Gizi Buruk

421
Balita penderita gizi buruk Aiswah (10) bulan.
Balita penderita gizi buruk Aiswah (10) bulan.

KONKEP, KARYASULTRA.ID-Tenaga Kesehatan (Nakes) Puskesmas Langara menemukan balita penderita gizi buruk dan gizi kurang di desa Langara Indah Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan. Hal ini terungkap saat dokter dan petugas kesehatan melakukan pelacakkan atau tracking status gizi akhir pekan lalu di beberapa desa.

Saat ditemukan kasus tersebut, pihak Puskesmas Langara langsung melakukan upaya intervensi berupa pemberian multivitamin, makanan tambahan dan susu formula. Selain itu juga, pihaknya mendata dan melakukan upaya edukasi kepada orang tuanya.

Kepala Puskesmas Langara, Yemi Yusuf SKM M.Kes sangat prihatin atas kondisi bayi tersebut. Bayi penderita gizi buruk umur 10 bulan atas nama Aiswah berat badannya hanya 5 kilogram yang semestinya diangka 8 kilogram. Yemi menjelaskan faktor penyebabnya adalah kondisi keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan serta faktor pendidikan orang tua.

Kemudian satu anak lagi di desa yang sama menderita gizi kurang atas nama Halim Takdir. Anak tersebut berumur 14 bulan. Anak itu dibesarkan tanpa seorang ayah. Ibunya bernama Sumi.ha ditinggal cerai suaminya. Dia pun harus merawat anaknya dengan susah payah. Bahkan anak tersebut terpaksa harus minum susu kental manis karena ibunya tak mampu membeli susu formula. Akibatnya, anak itu mengalami gangguan pencernaan.

Yemi juga menjelaskan, faktor gizi buruk atau gizi kurang disebabkan dua faktor. Yaitu faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsungnya adalah soal asupan makanan dan faktor tidak langsungnya yaitu pendidikan, pengetahuan, pola asuh, ketersedian pangan dan faktor lingkungan.

“Untuk balita penderita gizi buruk dan gizi kurang itu disebabkan dua faktor tadi. Olehnya penanganannya harus lintas sektor. Pemerintah desa harus berperan aktif mengontrol kondisi masyarakatnya.” Selain itu peran masyarakat agar memanfaatkan fasilitas posyandu. Sebab masyarakat sangat acuh ikut posyandu. “Efeknya adalah terjadilah kasus gizi buruk yang terus terjadi bak seperti fenomena gunung es. Ada tapi tak nampak ketahuan,” jelasnya.

Mantan ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Konkep ini menegaskan akan terus memantau kondisi kesehatan dua anak tersebut. Yemi mengatakan, dua petugas gizinya atas nama Nur Afifah S.Tr.Gz dan Uyun Yusnisari,S.Tr.Gz akan memantau terus kondisi balita tersebut. Bahkan pihaknya akan berkoodinasi dengan pihak Dinsos agar dilengkapi kartu BPJSnya sebab jika kondisi mereka makin memburuk akan dirujuk ke dokter anak ke Kendari.

Yemi juga bilang, sejauh ini masyarakat masih enggan berperan aktif mengikuti Posyandu. “Kita minta kepada bapak-bapak agar mengingatkan istrinya untuk mengikuti Posyandu sejak istrinya mengandung sampai dalam proses pemeliharaan anaknya. Sebab disitulah kita bisa intervensi langsung ibu dan anaknya,” pintanya saat di wawancara Sabtu siang (17/7/2021).

Penulis: Kalpin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here