77 Perusahaan Tambang Keruk Tanah Bombana, Pengangguran Meningkat?

226
Kabid Pengairan PUPR Bombana, Samuel Kadmaerubun
Kabid Pengairan PUPR Bombana, Samuel Kadmaerubun

BOMBANA, KARYASULTRA.ID – Meningkatnya masyarakat Kabupaten Bombana berstatus pengangguran salah siapa? Individunya yang non skill atau pemerintahnya tak mampu ciptakan lapangan kerja? Lalu siapa yang salah? Yang pasti mungkin bukan perusahaan Tambang yang bertanggung jawab mengurai masalah pengangguran. Lalu bagaimana bisa pengangguran meningkat drastis disaat daerah tersebut bergelimang investor penggali tanah merah. Belum lagi hadirnya perusahaan pabrik Tebu yang menyerap ratusan pekerja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran pada 2019, 2020, 2021 mengalami kenaikan. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada kabupaten Bombana tahun 2019: 2.44 persen lalu tahun 2020: 2.74 dan
2021: 3.17 persen.

Koordinator Fungsi Sosial BPS Kabupaten Bombana Samsyul Ma’arif mengatakan indikator penyebab naiknya angka pengangguran tersebut salah satunya kurangnya lapangan pekerjaan ditambah masa pandemi saat ini.

“Covid masih berpengaruh terhadap penganguran lapangan kerja banyak yg berkurang salah satu penyababnya dampak Covid-19,” kata Syamsul.

Untuk di ketahui Perusahaan pertambangan yang berada dan ter registrasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bombana dalam daftar perusahaan pertambangan sudah melakukan UKL-UPL berjumlah 77 perusahaan pertambangan.

Keberadaan kegiatan pertambangan ibarat pepatah, makan mati mama tapi kalau tidak di makan mati bapak. Tambang memberikan dampak positif maupun negatif pada
kondisi sosial dan kondisi ekonomi pada masyarakat. Pada sisi ekonomi sektor pertambangan adalah sektor yang dominan menyumbang devisa pendapatan negara. Kenyataannya keberadaan kegiatan pertambangan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti terganggunya lingkungan pada area penambangan yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan.

Dampak pada kondisi fisik meliputi
pencemaran air yang diakibatkan kontaminasi dengan limbah hasil sisa dari kegiatan pertambangan, pencemaran udara dan kegundulan hutan serta sebagainya.

Di Kabupaten Bombana salah satunya daerah yang memiliki Sumberdaya Alam yang melimpah, emas, dan nikel jadi kekayaan utama pada daerah tersebut lantas apakah daerah yang dikuasai oleh pertambangan tersebut mendapat dampak positif? Lalu Bagaimana tingkat pengangguranya, katanya pertambangan dapat menyerap tenaga kerja! bagaimana kondisi fisik yang dirasakan masyarakat yang berada pada wilayah tersebut.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR-Bombana) melalui Kepala Bidang Pengairan Semuel Kadmaerubun mengatakan, saat ini ada beberapa titik wilayah yang hari ini sangat merasakan kekurangan air diantaranya Para Petani Sawah yang berada pada wilayah Satuan Pemukiman (SP) mayoritas petani pada wilayah tersebut banyak mengeluhkan kekurangan air.

“Saat ini masyarakat setempat sudah sering mengeluhkan akan sawahnya yang mulai kekurangan air pada areal persawan yang berada dekat dengan areal pertambangan diantaranya wilayah SP, ” kata dia kepada Karyasultra.id, Jumat (10/12/2021).

Menurutnya wilayah yang potensi kekurangan air yakni wilayah Lantari dan daerah aneka marga pada wilayah ini, kata dia, terdapat areal persawahan yang cukup luas namun pada wilayah tersebut sangat kurang akan distribusi airnya disebabkan beberapa sumber sumber air pada wilayah tersebut sudah terkeruk habis.

“Pada wilayah ini kita punya luas wilayah areal persawahan yang sangat luas yakni kurang lebih empat ratusan hektare namun karena sumber sumber airnya sudah di keruk oleh pertambangan hingga distribusi air kurang untuk wilayah tersebut,” bebernya.

“Karena kekurangan sumber air, petani sawah untuk mengaliri sawahnya harus pakai sumur bor,” tambah Semuel.

Disisi lain kabupaten Bombana beberapa waktu terakhir ini mengalami bencana banjir saat diguyur hujan, hampir setiap wilayah pada kabupaten tersebut terendam banjir.

“Kami dari PU selalu ada penormalisasian pada sungai sungai yang diprediksi bakal meluap mengakibatkan banjir, namun berjalanya waktu dihulu ini hutan sudah tidak seperti dulu lagi, karena aktivitas tersebut mengakibatkan sungai yang tadinya luas semakin sempit atau sungai yang dalam kini semakin dangkal, tapi dari kami pemerintah terus melakukan normalisasi beberapa sungai yang potensinya besar meluap,” pungkasnya.

Lebih lanjut samuel menuturkan mengenai dampak pertambangan sesungguhnya akan mempengaruhi kebutuhan air pada sektor pertanian.

Laporan: Aldi Dermawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here